Minggu, 03 Juli 2011

askep penyakit HIV- Melatikalimantan

Keperawatan dewasa ii
Asuhan Keperawatan pada Pasien HIV/AIDS





OLEH:
Kelompok 9

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2011
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HIV/AIDS
A. Konsep Dasar HIV/AIDS
Pengertian
AIDS adalah singkatan dari acquired immunedeficiency syndrome, merupakan sekumpulan gejala yang menyertai infeksi HIV. Infeksi HIV disertai gejala infeksi yang oportunistik yang diakibatkan adanya penurunan kekebalan tubuh akibat kerusakan sistem imun. Sedangkan HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus.
Epidemiologi
Adanya infeksi menular seksual (IMS) yang lain (misal GO, klamidia), dapat meningkatkan risiko penularan HIV (2-5%). HIV menginfeksi sel-sel darah sistem imunitas tubuh sehingga semakin lama daya tahan tubuh menurun dan sering berakibat kematian. HIV akan mati dalam air mendidih/ panas kering (open) dengan suhu 56oC selama 10-20 menit. HIV juga tidak dapat hidup dalam darah yang kering lebih dari 1 jam, namun mampu bertahan hidup dalam darah yang tertinggal di spuit/ siring/ tabung suntik selama 4 minggu. Selain itu, HIV juga tidak tahan terhadap beberapa bahan kimia seperti Nonoxynol-9, sodium klorida dan sodium hidroksida.
Gejala Infeksi HIV/ AIDS
Infeksi akut: flu selama 3-6 minggu setelah infeksi, panas dan rasa lemah selama 1-2 minggu. Bisa disertai ataupun tidak gejala-gejala seperti:bisul dengan bercak kemerahan (biasanya pada tubuh bagian atas) dan tidak gatal. Sakit kepala, sakit pada otot-otot, sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar, diare (mencret), mual-mual, maupun muntah-muntah.
Infeksi kronik: tidak menunjukkan gejala. Mulai 3-6 minggu setelah infeksi sampai 10 tahun. Sistem imun berangsur-angsur turun, sampai sel T CD4 turun dibawah 200/ml dan penderita masuk dalam fase AIDS.
AIDS merupakan kumpulan gejala yang menyertai infeksi HIV. Gejala yang tampak tergantung jenis infeksi yang menyertainya. Gejala-gejala AIDS diantaranya: selalu merasa lelah, pembengkakan kelenjar pada leher atau lipatan paha, panas yang berlangsung lebih dari 10 hari, keringat malam, penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya, bercak keunguan pada kulit yang tidak hilang-hilang, pernafasan pendek, diare berat yang berlangsung lama, infeksi jamur (candida) pada mulut, tenggorokan, atau vagina dan mudah memar/perdarahan yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya.
Stadium Infeksi (AIDS Council of NSW)
• Stadium 1 Infeksi primer: Bila penderita mengalami infeksi untuk pertama kali dengan keluhan “seperti flu”.
• Stadium 2 Kelainan tanpa gejala: Penderita tetap merasa sehat, hal ini dapat berlangsung sampai beberapa tahun.
• Stadium 3 Kelainan dengan gejala-gejala: Penderita mengalami gejala-gejala ringan seperti rasa lelah, keringat malam, dll.
• Stadium 4 Kelainan berat: Penderita mengalami gejala-gejala yang lebih berat oleh karena daya tahan tubuh yang menurun (AIDS, Aquired Immunodeficiency Syndroms).
Stadium Infeksi (WHO)
• Stadium I
Tanpa gejala; Pembengkakan kelenjar getah bening di seluruh tubuh yang menetap.
Tingkat aktivitas 1: tanpa gejala, aktivitas normal.
• Stadium II
Kehilangan berat badan, kurang dari 10%; Gejala pada mukosa dan kulit yang ringan (dermatitis seboroik, infeksi jamur pada kuku, perlukaan pada mukosa mulut yang sering kambuh, radang pada sudut bibir); Herpes zoster terjadi dalam 5 tahun terakhir; ISPA (infeksi saluran nafas bagian atas) yang berulang, misalnya sinusitis karena infeksi bakteri.
Tingkat aktivitas 2: dengan gejala, aktivitas normal.
• Stadium III
Penurunan berat badan lebih dari 10%; Diare kronik yang tidak diketahui penyebabnya lebih dari 1 bulan; Demam berkepanjangan yang tidak diketahui penyebabnya lebih dari 1 bulan; Candidiasis pada mulut; Bercak putih pada mulut berambut; TB paru dalam 1 tahun terakhir; Infeksi bakteri yang berat, misalnya: pneumonia, bisul pada otot. Tingkat aktivitas 3: terbaring di tempat tidur, kurang dari 15 hari dalam satu bulan terakhir.
• Stadium IV
Kehilangan berat badan lebih dari 10% ditambah salah satu dari : diare kronik yang tidak diketahui penyebabnya lebih dari 1 bulan. Kelemahan kronik dan demam berkepanjangan yang tidak diketahui penyebabnya lebih dari 1 bulan.
1) Pneumocystis carinii pneumonia (PCP).
2) Toksoplasmosis pada otak.
3) Kriptosporidiosis dengan diare lebih dari 1 bulan.
4) Kriptokokosis di luar paru.
5) Sitomegalovirus pada organ selain hati, limpa dan kelenjar getah bening.
6) Infeksi virus Herpes simpleks pada kulit atau mukosa lebih dari 1 bulan atau dalam rongga perut tanpa memperhatikan lamanya.
7) PML(progressivemultifocalencephalopathy) atau infeksi virus dalam otak.
8) Setiap infeksi jamur yang menyeluruh, misalnya:histoplasmosis,kokidioidomikosis.
9) Candidiasis pada kerongkongan, tenggorokan, saluran paru dan paru.
10) Mikobakteriosis tidak spesifik yang menyeluruh.
11) Septikemia salmonela bukan tifoid.
12) TB di luar paru.
13) Limfoma.
14) Kaposi’s sarkoma.
15) Ensefalopati HIV sesuai definisi CDC.
Tingkat aktivitas 4: terbaring di tempat tidur, lebih dari 15 hari dalam 1 bulan terakhir.
Kelompok Resiko
Ditinjau dari cara penularannya, kelompok yang berpotensi terinfeksi HIV/ AIDS adalah pekerja seks komersial dengan pelanggannya, pramuria/ pramupijat, kaum homoseksual, penyalahguna narkoba suntik dan penerima darah atau produk darah yang berulang.
Dampak HIV/ AIDS
Dampak yang timbul akibat epidemi HIV/ AIDS dalam masyarakat adalah : menurunnya kualitas dan produktivitas SDM (usia produktif=84%); angka kematian tinggi dikarenakan penularan virus HIV/AIDS pada bayi, anak dan orang tua; serta adanya ketimpangan sosial karena stigmatisasi terhadap penderita HIV/ AIDS masih kuat.
Cara Penularan
HIV hanya bisa hidup dalam cairan tubuh seperti : darah, cairan air mani (semen), cairan vagina dan serviks, air susu ibu maupun cairan dalam otak. Sedangkan air kencing, air mata dan keringat yang mengandung virus dalam jumlah kecil tidak berpotensi menularkan HIV.
Cara penularan melalui hubungan seksual tanpa pengaman/kondom, jarum suntik yang digunakan bersama-sama, tusukan jarum untuk tatto, transfusi darah dan hasil olahan darah, transplantasi organ, infeksi ibu hamil pada bayinya(sewaktu hamil, melahirkan maupun menyusui). HIV tidak ditularkan melalui tempat duduk WC, sentuhan langsung dengan penderita HIV (bersalaman, berpelukan), tidak juga melalui bersin, batuk, ludah ataupun ciuman bibir (French kissing), maupun melalui gigitan nyamuk atau kutu.
Cara Pencegahan
Pencegahan yang dilakukan ditujukan kepada seseorang yang mempunyai perilaku beresiko, sehingga diharapkan pasangan seksual dapat melindungi dirinya sendiri maupun pasangannya. Adapun caranya adalah dengan tidak berganti-ganti pasangan seksual (monogami), penggunaan kondom untuk mengurangi resiko penularan HIV secara oral dan vaginal. Pencegahan pada pengguna narkoba dapat dilakukan dengan cara menghindari penggunaan jarum suntik bersamaan dan jangan melakukan hubungan seksual pada saat high (lupa dengan hubungan seksual aman). Sedangkan pencegahan pada ibu hamil yaitu dengan mengkonsumsi obat anti HIV selama hamil (untuk menurunkan resiko penularan pada bayi) dan pemberian susu formula pada bayi bila ibu terinfeksi HIV. Serta menghindari darah penderita HIV mengenai luka pada kulit, mulut ataupun mata.
Prosedur diagnostik
1. Tes antibodi hiv
a. ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay), untk mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus HIV. Tes ELISA tidak menegakkan diagnosis penyakit AIDS tetapi lebih menunjukkan bahwa seseorang pernah terkena atau terinfeksi oleh virus HIV.
b. Western Blot Assay, merupakan tes yang dapat mengenali antibody HIV dan digunakan untuk memastikan seroposivitas seperti yang teridentifikasi lewat prosedur ELISA.
c. Indirect Immunofluorescence Assay (IFA), digunakan sebagai pengganti pemeriksaan Western Blot untuk memastikan seropotivitas.
d. Radio Immunoprecipitation Assay (RIPA).
2. Pelacakan HIV
a. Antigen p24, sangat spesifik untuk HIV-1. Pemeriksaan p24 antigen capture assay telah digunakan bersama tes lainnya untuk mengevaluasi efek terapi dari preparat antivirus.
b. Reaksi rantai Polimerase (PCR; polymerase chain reaction), dipakai untuk mendeteksi RNA virus HIV atau DNA provirus
c. Kultur sel Mononuklear darah perifer untuk HIV-1
d. Kultur sel kuantitatif
e. Kultur plasma kuantitatif
f. Mikroglobulin B2
g. Neopterin serum
3. Pemeriksaan status imun
a. Sel-sel CD4, hasilnya pada penderita HIV = menurun
b. Persentase sel-sel CD4, hasilnya pada penderita HIV = menurun
c. Rasio CD4:CD8, hasilnya pada penderita HIV = rasionya menurun
d. Hitung sel darah putih, hasilnya pada penderita HIV = normal hingga menurun
e. Kadar immunoglobulin, hasilnya pada penderita HIV = meningkat
f. Tes fungsi sel CD4, hasilnya pada penderita HIV = sel-sel T4 mengalami penurunan kemampuan untuk bereaksi terhadap antigen
g. Reaksi sensitivitas pada tes kulit, hasilnya pada penderita HIV = menurun hingga tidak terdapat sama sekali
Pemeriksaan HIV/ AIDS
Pemeriksaan sedini mungkin untuk mengetahui infeksi HIV sangat membantu dalam pencegahan dan pengobatan yang lebih lanjut. Tes HIV untuk yang beresiko dilakukan setiap 6 bulan, selain itu pencegahan dapat mengurangi faktor resiko. Apabila sudah terdiagnosis infeksi HIV dilakukan dengan dua cara pemeriksaan antibodi yaitu ELISA dan Western blot. Tes Western blot dilakukan di negara-negara maju, sedangkan untuk negara berkembang dinjurkan oleh WHO pemeriksaan menggunakan tes ELISA yang dilakukan 2-3 kali.
Beberapa kelemahan dan keunggulan tes pemeriksaan infeksi HIV:
1. Tes Elisa
• Keuntungan: murah, efisien, cocok untuk testing dalam jumlah besar, dapat mendeteksi HIV-1, HIV-2 dan varian HIV, cocok dalam surveilans dan pelayanan transfuse darah terpusat.
• Kelemahan : butuh staf dan tehnisi laboratorium yang terampil dan terlatih, peralatan canggih, sumber listrik konstan, waktu yang cukup.
2. Tes Sederhana/Cepat
• Keuntungan : hasil cepat, menggunakan sampel darah lengkap (whole blood), tidak butuh peralatan khusus, sederhana, dapat dikerjakan oleh staf dengan pelatihan terbatas, tidak perlu listrik, dapat dipindah-pindahkan dan fleksibel, hasil mudah dibaca, punya kontrol internal sehingga hasil akurat, rancangan tes tunggal untuk spesimen terbatas.
• Kelemahan: lebih mahal dari tes ELISA, butuh mesin pendingin (2o C dan 30 o C), meningkatkan potensi testing wajib, pemberitahuan hasil tes tidak terpikirkan implikasinya.
3. Tes Air Liur dan Air Kencing
• Keuntungan: prosedur pengumpulan lebih sederhana, cocok untuk orang yang menolak memberikan darah, menurunkan resiko kerja, lebih aman (karena mengandung sedikit virus).
• Kelemahan : harus mengikuti prosedur testing yang spesifik dan hati-hati; berpotensi untuk testing mandatory; mendorong timbulnya mitos penularan HIV lewat ciuman; belum banyak dievaluasi di lapangan.
4. Tes Konfirmasi (Western blot)
• Keuntungan : untuk memastikan suatu hasil positif dari tes pertama.
• Kelemahan : mahal, membutuhkan peralatan khusus, pemeriksa harus terlatih.
5. Antigen Virus
• Keuntungan : mengetahui infeksi dini HIV, skrinning darah, mendiagnosis infeksi bayi baru lahir, memonitor pengobatan dengan ARV.
• Kelemahan : kurang sensitif untuk tes darah.
6. VCT (Voluntary Counseling And Testing)
• Kelemahan : perlu pelayanan konseling yang efektif; konselor perlu disupervisi; konselor terkadang perlu konseling.
Pengobatan HIV/ AIDS
Pengobatan HIV/ AIDS yang sudah ada kini adalah dengan pengobatan ARV (antiretroviral) dan obat-obat baru lainnya masih dalam tahap penelitian.
Jenis obat-obat antiretroviral :
1. Attachment inhibitors (mencegah perlekatan virus pada sel host) dan fusion inhibitors (mencegah fusi membran luar virus dengan membran sel hos). Obat ini adalah obat baru yang sedang diteliti pada manusia.
2. Reverse transcriptase inhibitors atau RTI, mencegah salinan RNA virus ke dalam DNA sel hos. Beberapa obat-obatan yang dipergunakan saat ini adalah golongan Nukes danNon-Nukes.
3. Integrase inhibitors, menghalangi kerja enzim integrase yang berfungsi menyambung potongan-potongan DNA untuk membentuk virus. Penelitian obat ini pada manusia dimulai tahun 2001 (S-1360).
4. Protease inhibitors (PIs), menghalangi enzim protease yang berfungsi memotong DNA menjadi potongan-potongan yang tepat. Golongan obat ini sekarang telah beredar di pasaran (Saquinavir, Ritonavir, Lopinavir, dll.).
5. Immune stimulators (perangsang imunitas) tubuh melalui kurir (messenger) kimia, termasuk interleukin-2 (IL-2), Reticulose, HRG214. Obat ini masih dalam penelitian tahap lanjut pada manusia.
6. Obat antisense, merupakan “bayangan cermin” kode genetik HIV yang mengikat pada virus untuk mencegah fungsinya (HGTV43). Obat ini masih dalam percobaan.
Perawatan dan Dukungan
Perawatan dan dukungan untuk ODHA (orang dengan HIV/ AIDS) sangat penting sekali. Hal tersebut dapat menimbulkan percaya diri/ tidak minder dalam pergaulan. ODHA sangat memerlukan teman untuk memberikan motivasi hidup dalam menjalani kehidupannya. HIV/ AIDS memang belum bisa diobati, tetapi orang yang mengidap HIV/ AIDS dapat hidup lebih lama menjadi apa yang mereka inginkan.
Kiat Hidup Sehat Dengan HIV/AIDS
1. Makan makanan bergizi.
2. Tetap lakukan kegiatan dan bekerja/ beraktivitas.
3. Istirahat cukup.Sayangilah diri sendiri.
4. Temuilah teman/ saudara sesering mungkin.
5. Temui dokter bila ada masalah/ keluhan.
6. Berusaha untuk menghindari infeksi lain, penggunaan obat-obat tanpe resep dan hindari mengurung diri sendiri.
Perawatan di rumah (home care)
1. Melakukan pendidikan pada odha dan keluarga tentang pengertian, cara penularan, pencegahan, gejala-gejala, penanganan hiv/ aids, pemberian perawatan, pencarian bantuan dan motivasi hidup.
2. Mengajar keluarga ODHA tentang bertanya dan mendengarkan, memberikan informasi dan mendiskusikan, mengevaluasi pemahaman, mendengar dan menjawab pertanyaan, menunjukkan cara melakukan sesuatu dengan benar dan mandiri serta pemecahan masalah.
3. Mencegah penularan HIV di rumah dengan cara cuci tangan, menjaga kain sprei dan baju tetap bersih, jangan berbagi barang-barang tajam.
4. Menghindari infeksi lain seperti dengan cuci tangan, menggunakan air bersih dan matang untuk konsumsi, jangan meludah sembarang tempat, tutup mulut/ hidung saat batuk/ bersin, buanglah sampah pada tempatnya.
5. Menghindari malaria dengan menggunakan kelambu saat tidur dan penggunaan obat nyamuk.
6. Merawat anak-anak dengan HIV/ AIDS, yaitu dengan memberikan makanan terbaik (ASI), memberikan imunisasi, pengobatan apabila si kecil sudah terinfeksi, serta memperlakukan anak secara normal.
7. Mengenal dan mengelola gejala yang timbul pada ODHA. Gejala-gejalanya seperti demam, diare, masalah kulit, timbul bercak putih pada mulut dan tenggorokan, mual dan muntah,nyeri, kelelahan dan kecemasan serta kecemasan dan depresi.
8. Perawatan paliatif (untuk memberikan perasaan nyaman dan menghindari keresahan, membantu belajar mandiri, menghibur saat sedih,membangun motivasi diri).















B. Kasus
Ny. A (23) berobat ke RS AC dengan keluhan panas yang tidak turun-turun, diare berat sudah 1 (satu) bulan, dan BB menurun sejak 2 bulan yang lalu. Klien menderita batuk yang menetap sudah 1(satu) tahun. Dari riwayat didapatkan bahwa ia dijual oleh suaminya yang berkebangsaan Thailand untuk dijadikan PSK antar negara. Berbagai pemeriksaan sudah dilakukan dan pasien diduga menderita AIDS. Pemeriksaan yang dilakukan:
ELISA: +
Penilaian
Sel T4+ : 150
CD4: 900
Leukosit: 4000
Hasil pemeriksaan saat ini didapatkan klien mengeluh sesak nafas dan batuk sehingga terpasang oksigen 2 L/mnt dan aktivitas hanya terbaring lemah diatas tempat tidur. Hasil foto Thoraks didapatkan penumpukan secret pada kedua lapang paru.
Riwayat Kesehatan
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
 Panas yang tidak turun-turun
 Diare berat sudah 1 bulan
 Batuk menetap sudah 1 tahun
 Klien mengeluh sesak nafas dan batuk, terpasang oksigen 2 L/mnt
 Aktivitas hanya terbaring lemah diatas tempat tidur.
2. Riwayat Kesehatan Terdahulu
Perawat perlu menanyakan dan mengkaji penyakit apa yang pernah diderita oleh klien sebelumnya. Apakah klien memiliki riwayat melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang positif mengidap HIV/AIDS, pasangan seksual multiple, aktivitas seksual yang tidak terlindung, seks anal, homoseksual, penggunaan kondom yang tidak konsisten, menggunakan pil pencegah kehamilan (meningkatkan kerentanan terhadap virus pada wanita yang terpajan karena peningkatan kekeringan/friabilitas vagina), pemakai obat-obatan IV dengan jarum suntik yang bergantian, riwayat menjalani transfusi darah berulang, dan mengidap penyakit defesiensi imun.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Perawat harus mengkaji apakah klien memiliki keluarga yang menderita penyakit keturunan.
Pemeriksaan Fisik
1. Otot
Massa otot menurun, terjadi respon fisiologis terhadap aktivitas seperti perubahan pada tekanan darah, frekuensi denyut jantung, dan pernafasan. Pembengkakan sendi, nyeri tekan, penurunan rentang gerak, perubahan gaya berjalan/pincang, gerak otot melindungi yang sakit. Penurunan kekuatan umum, tekanan otot, perubahan pada gaya berjalan.
2. Jantung
Takikardi, perubahan tekanan darah postural, penurunan volume nadi perifer, pucat/sianosis, kapillary refill time meningkat.
3. Paru-Paru
Takipnea, distress pernafasan, perubahan bunyi nafas/bunyi nafas adventisius, batuk (mulai sedang sampai parah) produktif/nonproduktif, sputum kuning (pada pneumonia yang menghasilkan sputum).
4. Kulit dan mulut
turgor kulit buruk; lesi pada rongga mulut, adanya selaput putih dan perubahan warna; kurangnya kebersihan gigi, adanya gigi yang tanggal, edema.
5. Usus: Adanya bising usus hiperaktif
6. Neurosensori: Perubahan status mental dengan rentang antara kacau mental sampai dimensia, lupa, konsentrasi buruk. kesadaran menurun, apatis, retardasi psikomotor/respon melambat.
Ide paranoid, ansietas berkembang bebas, harapan yang tidak realistis. Timbul refleks tidak normal, menurunnya kekuatan otot, gaya berjalan ataksia. Tremor pada motorik kasar/halus, menurunnya motorik fokalis, hemiparase, kejang. Hemoragi retina dan eksudat (renitis CMV).
7. Limfe: Timbulnya nodul-nodul, pelebaran kelenjar limfe pada dua/lebih area tubuh (leher, ketiak, paha)
8. Rektum: luka-luka perianal atau abses
9. Genitalia: Herpes, kutil atau rabas pada kulit genitalia
Pemeriksaan Labor
ELISA: +
Penilaian
Sel T4+ : 150
CD4: 900
Leukosit: 4000
Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon
a. Pola persepsi dam manajemen kesehatan
Pada kasus ini klien dan keluarga tidak mengerti bahwa seks bebas dapat menyebabkan penyakit yang berbahaya, seperti penyakit yang sedang diderita klien.
perawat perlu mengkaji bagaimana klien memandang penyakit yang dideritanya, apakah klien tau apa penyebab penyakitnya sekarang?
b. Pola nutrisi dan metabolic
Biasanya pada pasien terdapat bising usus hiperaktif; penurunan berat badan: parawakan kurus, menurunnya lemak subkutan/massa otot; turgor kulit buruk; lesi pada rongga mulut, adanya selaput putih dan perubahan warna; kurangnya kebersihan gigi, adanya gigi yang tanggal; edema.
Pada kasus pasien ini mengalami penurunan BB sejak 2 bulan yang lalu.
c. Pola eliminasi
Biasanya pasien mengalami Diare intermitten, terus menerus dengan/tanpa nyeri tekan abdomen, lesi/abses rektal/perianal, feses encer dan/tanpa disertai mukus atau darah, diare pekat, perubahan jumlah, warna, dan karakteristik urine.
Pada kasus pasien ini sudah 1 bulan mengalami diare berat.
d. Pola latihan /aktivitas
Biasaya pada pasien HIV Massa otot menurun, terjadi respon fisiologis terhadap aktivitas seperti perubahan pada tekanan darah, frekuensi denyut jantung, dan pernafasan.
Pada kasus ini pasien hanya terbaring lemah diatas tempat tidurnya dan mengalami sesak nafas.
e. Pola istirahat tidur
Pasien diduga mengalami gangguan tidur dikarenakan klien mengalami sesak nafas dan batuk yang menetap.
f. Pola persepsi kognitif
Biasanya terjadi Perubahan status mental dengan rentang antara kacau mental sampai dimensia, lupa, konsentrasi buruk, kesadaran menurun, apatis, retardasi psikomotor/respon melambat.
Ide paranoid, ansietas berkembang bebas, harapan yang tidak realistis.
Timbul refleks tidak normal, menurunnya kekuatan otot, gaya berjalan ataksia.
Tremor pada motorik kasar/halus, menurunnya motorik fokalis, hemiparase, kejang
Hemoragi retina dan eksudat (renitis CMV).
g. Pola persepsi diri
Biasanya pasien memiliki Perilaku menarik diri, mengingkari, depresi, ekspresi takut, perilaku marah, postur tubuh mengelak, menangis, kontak mata kurang, gagal menepati janji atau banyak janji.
h. Pola Koping dan toleransi stress
Biasanya pasien mengalami depresi dikarenakan penyakit yang dialaminya. Serta adanya tekanan yang datang dari lingkungannya.
i. Pola peran hubungan
Biasanya pasien mengalami Perubahan pada interaksi keluarga/orang terdekat, aktivitas yang tak terorganisasi, perobahan penyusunan tujuan.
j. Pola reproduksi seksual
Biasanya pasien mengalami Herpes, kutil atau rabas pada kulit genitalia.
k. Pola keyakinan
Pola keyakinan perlu dikaji oleh perawat terhadap klien agar kebutuhan spiritual klien data dipenuhi selama proses perawatan klien di RS. kaji apakah ada pantangan agama dalam proses pengobatan klien.
Termasuk stadium berapakah Ny. A tersebut? Jelaskan
Dilihat dari gejala dan hasil pemeriksaan Ny. A menderita penyakit HIV/AIDS stadium 3. Dimana pada stadium ini penderita mengalami penurunan berat badan sejak dua bulan yang lalu, diare kronik yang sudah dialami sejak 1 bulan lalu, batuk yang menetap selama 1 tahun kondisi ini dapat dikategorikan kedalam TB paru, penderita terbaring lemah ditempat tidur, serta hasil foto thoraks didapatkan penumpukkan secret pada kedua lapang paru.
Masalah keperawatan yang mungkin timbul sesuai dengan stadium
1. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
2. Kekurangan volume cairan
3. Ketidakefektifan pola pernafasan
4. Gangguan harga diri
Diagnosa keperawatan yang utama
Diagnosa NOC NIC
1. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Domain 2: Nutrision
Class 1: Ingestion
Karakteristik
• Berat badan berkurang dari ideal
• Diare
• Lemahnya kesehatan otot
Faktor-faktor yang terkait
• Faktor biologi
• Factor Psikologi Defenisi:
Keadaan seseorang yang mengalami intake nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi proses metabolisme
Outcome yang disarankan
• Status nutrisi
• Status nutrisi: intake makanan dan cairan
• Status nutrisi: intake zat makanan
• Mengontrol berat badan
Tambahan outcome yang sejenis
• Eliminasi usus
• Pengetahuan: makanan
• Status nutrisi: energy Intervensi Keperawatan sebagai solusi masalah yang dianjurkan:
• Tahap-tahap makan
• Mengontrol ketidakteraturan makan
• Pengontrolan cairan
• Konsul menyusui
• pengontrolan nutrisi
• Terapi nutrisi
• Penyuluhan nutrisi
• Memantau nutrisi
• Terapi menelan
• Memantau tanda-tanda vital
• Bantuan penambahan berat badan
• Mengontrol berat badan
Tambahan pilihan Intervensi:
• Pengontrolan alergi
• Pemberian makanan botol
• Pengontrolan usus
• Pengontrolan demensia
• Pengontrolan energy
• Pemasukan saluran makanan
• Promosi latihan
• Intubasi gastrointestinal
• Pengontrolan hyperglycemia
• Perawatan bayi
• Penyisipan intravena (IV)
• Terapi intravena(IV)
• Memantau pengobatan
• Mengatur tujuan yang bermutu
• Perawatan saat kelahiran
• Phlebotomy: contoh daran vena
• Penempatan
• Penyerahan
• Mengajarkan: Individu
• Mengajarkan: Menentukan makanan
• Mengatur Total Parental Nutrition (TPN)
• Mempertahankan Venous Access Devices (VAD)

2. Kekurangan volume cairan
Defenisi : penurunan cairan intravaskuler intestinal dan atau intraseluler, contohnya dehidrasi, kehilangan cairan tanpa perubahan sodium.
Batasan karakteristik :
Kelelahan, kehilangan berat badan. Criteria hasil yang disarankan
1. Keseimbangan elektrolit dan asam basa
2. Keseimbangan cairan
3. Status nutrisi: intake makanan dan cairan
1. Keseimbangan elektrolit dan asam basa
Defenisi: keseimbangan dari elektrolit dan nonelektrolit dalam ruangan intrasel dan ekstrasel tubuh
Kriteria hasil:
• Serum sodium dalam batas normal
• Serum potasium dalam btas normal
• Serum klorida dalam batas normal
• Serum natrium dalam batas normal
• Serum kalium dalam batas normal
• Serum magnesium dalam batas normal
2. Keseimbangan cairan
Defenisi: keseimbangan cairan yang terdapat diruangan intrasel dan ekstrasel tubuh
Kriteria hasil:
• Keseimbangan intake dan output 24 jam
• Berat badan stabil
• Tidak ada rasa haus yang berlebihan
• Elektrolit serum dalam batas normal
• Hidrasi kulit tidak ada
3. Status nutrisi: intake makanan dan cairan
Defenisi: sejumlah makanan dan cairan yang masuk ketubuh 24 jam
Kriteria hasil:
• Intake makanan oral
• Intake cairan melalui oral
• Intake cairan
• Intake total nutrisi parenteral



- Pemantauan cairan elektrolit
Defenisi: pengumpulan dan analisis data pasien untuk regulate keseimbangan elektrolit
Aktifitas:
• Memonitor ketidak seimbangan asam basa
• Identifikasi kemungkinan penyebab ketidakseimbangan elektrolit
• Memonitor kehilangan cairan dan dihubungkan dengan kehilangan elektrolit
• Konsultasi dengan dokter jika ada tanda dan gejala dari ketidakseimbangan cairan atau elektrolit
• Monitor serum dan osmolalitas urin
• Lengkapi nutrisi makanan dan cairan secara teratur
- Pengelolaan cairan
Aktifitas:
• Pantau berat badan biasanya dan kecendrungannya
• Mempertahankan intake dan output pasien
• Pantau ststus hidrasi
• Memonitor status hemodynamic termasuk CVP, MAP, PAP, dan PCWP
• Pantau tanda-tanda vital pasien
• Pantau status nutrisi pasien
- Pemantauan nutrisi
Defenisi:
Aktifitas:
• Menetapkan interval berat badan pasien
Pantau kecendrungan dalam penurunan berat badan
Pantau albumin , protein, Hb, dan hematokrit
• Pantau limfosit dan kadar elektrolit
• Pantau pilihan makanan pasien
• Pantau intake kalori dan nutrisi



Jelaskan cara perawatan jenazah dengan HIV/AIDS
Merawat jenazah
1. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan walaupun memakai sarung tangan, dengan menggunakan desinfektan dan di bawah air mengalir
2. Melapor kepada Kepala Ruangan/Tim Khusus Penanganan AIDS di rumah sakit bila terkena tusukan jarum bekas dipakai atau terkena percikan pada mata, mulut atau tangan yang luka
3. Memberi pelapis plastic pada bantal dan kasur sebagai pelindung sehingga mudah disuci dnegan detergen
4. Memasang label bertuliskan BAHAN MENULAR/HIV pada semua botol specimen yang akan dikirim ke laboratorium
5. Membersihkan kamar mandi/WC dan ruangan perawatan secara biasa
6. Memegang teguh rahasia jabatan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar