Minggu, 03 Juli 2011

prespektif keperawatan ank


TUGAS
KEPERAWATAN DEWASA II

prespektif keperawatan anak





Oleh :
Fitriana (0910323097)


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2011

KATA  PENGANTAR
           Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan paper ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
            Tak lupa pula ucapan terima kasih kepada dosen mata kuliah Keperawatan Dewasa II, ibu Merineherta, S.Kep., M.Biomed karena berkat bimbingan beliaulah saya dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya, juga pihak-pihak yang mendukung hingga penyelasian paper ini.
Paper  ini disusun agar pembaca dapat memperluas pengetahuannya tentang  “Prespektif  Keperawatan Anak; Pertumbuhan dan Perkembangan Anak ; Bermain dan Hospitalisasi”  yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Paper ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya paper ini dapat terselesaikan.
Semoga paper ini dapat menambah wawasan pembaca. Untuk kedepannya agar paper ini lebih bagus penyusun mohon untuk kritikdan sarannya. Terima kasih.

Padang,15 Mei 2011
                penyusun






DAFTAR ISI

KATA  PENGANTAR………………………………………………………………………..i
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………….ii

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………………iii
BAB II PEMBAHASAN
A.  Proses Pembelajaran ……………………………………………………………………….1
B.  Perspektif Keperawatan Anak…………………………………………………………….. 1
C.  Pertumbuhan dan Perkembangan Anak…………………………………………………....2
D.  Bermain dan Hospitalisasi………………………………………………………………….5
E.   Komunikasi pada Bayi, Anak dan Keluarga…………………………………………….....6
F.   Kebutuhan Gizi pada Bayi dan Anak……………………………………………………...7
G.  Imunisasi…………………………………………………………………………………...9
H.  Pengkajian Fisik…………………………………………………………………………..10
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN………………………………………………………………………….......14
SARAN……………..……………………………………………………………………......14
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………..15










BAB I
PENDAHULUAN
       Dewasa ini keperawatan anak telah mengalami pergeseran yang sangat mendasar. Anak sebagai klien tidak lagi dipandang sebagai miniatur orang dewasa, melainkan sebagai mahluk unik yang memiliki kebutuhan spesifik dan berbeda dengan orang dewasa.
       Setiap perawat perlu memahami perspektif keperawatan anak sehingga dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada anak selalu berpegang pada prinsip perawatan anak. Perspektif keperawatan anak merupakan landasan berpikir bagi seorang perawat anak dalam melaksanakan pelayanan keperawatan terhadap klien anak maupun keluarganya. Isi bahasan perspektif keperawatan anak mencakup perkembangan keperawatan anak, falsafah keperawatan anak, dan peran perawat anak.
       Untuk dapat memahami  perkembangan keperawatan anak, kita diajak untuk mempelajari evolusi kesehatan anak dan keperawatan anak.
Sebelum abad ke-19 : kesehatan anak kurang mendapat perhatian dari berbagai pihak,jumlah tenaga kesehatan terutama dokter dan bidan sangat sedikit sementara epidemic terjadi dibanyak tempat dan tidak ada kontrol
Akhir abad ke-19 : dikatakan sebagai abad kegelapan untuk kesehatan anak ( the dark    age of paediatric).
Pertengahan thn 1800 : mulai ada studi kesehatan anak yang dilakukan oleh seorang tokoh kesehatan anak, yaituAbraham Jacobi  yang melakukan penyelidikan tentang kesehatan anak, khususnya pada tunawisma dan buruh. Upayanya didukung oleh seorang wanita yang bernamaLilian Wald yang mengembangkan pelayanan keperawatan yang juga berfokus pada pelayanan social, program sosial, dan pendidikan khusus untuk orang tua dalam hal perawatan anak sakit.
Awal tahun 1900 : perawatan isolasi berkembang sejak ditemukannya penyakit menular. Orang tua dilarang untuk mengunjungi dan membawa mainan ke RS. Akan tetapi, pada Thn 1940, ditemukan efek psikologis dari tindakan isolasi yaitu anak menjadi stress selama di RS, begitupun dengan orang tuanya. Akhirnya, orientasi pelayanan keperawatan anak berubah menjadi rooming in, yaitu orang tua boleh tinggal bersama anaknya di RS selama 24 jam.



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran adalah sebuah upaya bersama antara pengajar dan peserta didik untuk berbagi dan mengolah informasi dengan tujuan agar pengetahuan yang terbentuk ter-“internalisasi dalam diri peserta pembelajaran dan menjadi landasan belajar secara mandiri dan berkelanjutan. Maka kriteria keberhasilan sebuah proses pembelajaran adalah munculnya kemampuan belajar berkelanjutan secara mandiri. Sebuah proses pembelajaran yang baik, paling tidak harus melibatkan 3 aspek, yaitu : aspek psikomotorik, aspek kognitif dan aspek afektif.

B.  Perspektif Keperawatan Anak
Adalah perawatan berfokus pada anak mencakup perkembangan keperawatan anak, falsafah keperawatan anak dan peran perawat anak. Kehidupan anak dapat ditentukan oleh lingkungan keluarga, untuk itu keperawatan anak harus mengenal keluarga sebagai tempat tinggal atau sebagai konstanta tetap dalam kehidupan anak (Wong, perry, 2002)
Falsafah keperawatan anak merupakan keyakinan atau pandangan yang dimiliki perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan pada anak yang berfokus keluarga (family centered care), pencegahan terhadap trauma (atraumatic care), dan manajemen kasus.
1.    Perawatan berfokus pada keluarga (family centered care)
Keperawatan anak perlu memperhatikan kehidupan social, budaya, dan ekonomi dari keluarga dapat menentukan pola kehidupan anak selanjutnya. Kehidupan anak juga sangat ditentukan oleh bentuk dukungan keluarga.
2.    Atraumatic care
adalah perawatan yang tidak menimbulkan trauma pada anak dan keluarga. Perawatan tersebut difokuskan dalam pencegahan terhadap trauma. Beberapa kasus yang sering diumpai di masyarakat seperti peristiwa yang dapat menimbulkan trauma pada anak adalah cemas, marah, nyeri dan lain-lain. Apabila hal tersebut dibiarkan  dapat menyebabkan dampak psikologis pada anak dan tentunya akan menganggu perkembangan anak.
3.    Manajemen kasus
Pengelolaaan kasus secara komprehensif adalah bagian utama dalam pemberian asuhan keperawatan secara utuh, melalui upaya pengkajian, penentuan diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pendekatan psikologis yang dilakukan yang mempersiapkan secara fisik, memberi kesempatan pada orang tua dan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi anak dan orang tua.

PERAN PERAWAT DALAM KEPERAWATAN ANAK
«  Care Giver                               * Sebagai advocate keluarga
«  Pencegah penyakit                  * Pendidikan
«  Konseling                                * Kolaborasi
«  Pengambil keputusan etik       *Peneliti

C.       Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Memberikan asuhan keperawatan harus berdasarkan kebutuhan dasar anak yaitu kebutuhan akan tumbuh kembang anak seperti asuh, asih, asah.
§  Kebutuhan asuh
seperti  gizi/nutrisi, pencegahan penyakit, lingkungan sehat, pakaian, rekreasi, dll.
§  Kebutuhan asih
adanya pemberian kasih sayang pada anak atau memperbaiki psikologis anak.
§  Kebutuhan asah
kebutuhan untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal dengan memberikan stimulasi mental sejak dini.
Anak memiliki suatu ciri yang khas yaitu selalu tumbuh dan berkembang sejak konsepsi sampai berakhirnya masa remaja. Hal ini yang membedakan anak dengan dewasa. Anak bukan dewasa kecil.
a.       Anak menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai dengan usianya. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interselular, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat. Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian.

b. Ciri-ciri dan Prinsip-prinsip Tumbuh Kembang Anak.
Proses tumbuh kembang anak mempunyai beberapa ciri-ciri yang saling berkaitan. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:
·      Perkembangan menimbulkan perubahan
Misalnya perkembangan intelegensia pada seorang anak akan menyertai pertumbuhan otak dan serabut saraf.
·      Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal menentukan perkembangan selanjutnya. contoh, seorang anak tidak akan bisa berjalan sebelum ia bisa berdiri. Seorang anak tidak akan bisa berdiri jika pertumbuhan kaki dan bagian tubuh lain yang terkait dengan fungsi berdiri anak terhambat.
c.  Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda.
pertumbuhan fisik, perkembangan fungsi organ dan perkembangan pada masing-masing anak akan memmiiliki kecepatan yang berbeda.
d. Perkembangan berkorelasi dengan pertumbuhan.
Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat, perkembangan pun demikian, terjadi peningkatan mental, memori, daya nalar, asosiasi dan lain-lain. Anak sehat, bertambah umur, bertambah berat dan tinggi badannya serta bertambah kepandaiannya.
e.  Perkembangan memiliki tahap yang berurutan.
Tahap perkembangan seorang anak mengikuti pola yang teratur dan berurutan. Tahap-tahap tersebut tidak bisa terjadi terbalik, misalnya anak terlebih dahulu mampu membuat lingkaran sebelum mampu membuat gambar kotak, anak mampu berdiri sebelum berjalan dan sebagainya.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut adalah sebagai berikut:
|  faktor internal :
a.      Seks/ jenis kelamin
b.      ras
anak keturunan bangsa Eropa lebih tinggi dan besar dibandingkan dengan anak keturunan bangsa Asia.
c.       Umur
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun pertama kehidupan dan masa remaja.
d.      Keluarga
e.       Genetik
Ada beberapa kelainan genetik yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak seperti kerdil dan Kelainan kromosom. Kelainan kromosom umumnya disertai dengan kegagalan pertumbuhan seperti pada sindroma Down&rsquos dan sindroma Turner&rsquo.
|  faktor lingkungan
a.       lingkungan eksternal
1.      kebudayaan
kebudayaan suatu daerah akan mempengaruhi kepercayaan adat kebiasaan dan tingkah laku dalam merawat dan mendidik anak.
2.      status sosial ekonomi keluarga
3.      Asupan nutrisi
4.      Penyakit/ infeksi  atau kecelakaan
5.      Olahraga dapat meningkatkan sirkulasi, aktivitas fisiologi, dan menstimulasi terhadap perkembangan otot-otot
6. Toksin/zat kimia, seperti Aminopterin, Thalidomid dapat menyebabkan kelainan kongenital seperti palatoskisis.
7.      Radiasi
Paparan radium dan sinar Rontgen dapat mengakibatkan kelainan pada janin seperti mikrosefali, spina bifida, retardasi mental dan deformitas anggota gerak, kelainan kongential mata, kelainan jantung.
8.      Psikologi ibu
Kehamilan yang tidak diinginkan, perlakuan salah/kekerasan mental pada ibu hamil dll.
b.      lingkungan internal
1.      intelegensi
2.      hormone
ada tiga hormon yang mempengaruhi pertumbuhan anak yaitu:
somatotropin, hormon yang mempengaruhi jumlah sel untuk merangsang sel otak pada masa pertumbuhan, berkuragnya hormon ini dapat menyebabkan gigantisme; hormon tiroid, mempengaruhi pertumbuhan, kurangnya hormon ini apat menyebabkan kreatinisme; hormon gonadotropin, merangsang testosteron dan merangsang perkembangan seks laki-laki dan memproduksi spermatozoa. Sedangkan estrogen merangsang perkembangan seks sekunder wanita dan produksi sel telur.kekurangan hormon gonadotropin ini dapat menyebabkan terhambatnya perkembangan seks.
3.       Emosi
hubungan yang hangat dengan ornag lain seperti ayah, ibu, saudara, teman sebaya serta guru akan memberi pengaruh pada perkembangan emosi, sosial dan intelektual anak.
4.      Pelayanan Kesehatan Yang ada di sekitar Lingkungan
Perkembangan anak menjadi terkontrol dan jika ada masalah dapat segera diketahui sedini mungkin serta dapat dipecahkan / dicari jalan keluarnya dengan cepat.

D.      Bermain dan Hospitalisasi
Bermain merupakan kegiatan yang menyenangkan / dinikmati siapa saja , dengan melibatkan Fisik , Intelektual, Emosi, Sosial, belajar, Perkembangan mental sesorang.
Hospitalisasi ialah Suatu proses karena suatu alasan darurat atau berencana mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan kembali kerumah. Selama proses tersebut bukan saja anak tetapi orang tua juga mengalami kebiasaan yang asing, lingkungannya yang asing, orang tua yang kurang mendapat dukungan emosi akan menunjukkan rasa cemas. Rasa cemas pada orangtua akan membuat stress anak meningkat.

Tujuan bermain di rumah sakit adalah untuk dapat melanjutkan tumbuh kembang yang normal selama di rawat dan mengungkapkan pikiran dan perasaan dan fantasinya melalui permainan.

Fungsi bermain : membantu perkembangan motorik, kognitif, Sosialisasi, Kreatifitas, perkembangan moral therapeutic dan Komunikasi anak.

#  Prinsip bermain di rumah sakit : tidak membutuhkan banyak energy, waktunya singkat, mudah dilakukan, aman, Kelompok umur , tidak bertentangan dengan terapi, melibatkan keluarga.
 # Faktor-faktor yang mempengaruhi bermain  : Tahap perkembangan anak, Status kesehatan, Jenis kelamin dan Alat permain.

E.   KOMUNIKASI PADA BAYI, ANAK DAN KELUARGA
Komunikasi adalah pengiriman pesan atau tukar menukar informasi atau ide / gagasan ( Oxford Dictionary ). Komunikasi adalah suatu proses ketika informasi disampaikan kepada orang lain melalui symbol, tanda, atau tingkah laku ( Haber, 1987 ). Komunikasi bisa berbentuk komunikasi verbal, komunikasi nonverbal, dan komunikasi abstrak ( Champbell dan Glasper, 1995 ).

*  Efektif tidaknya suatu komunikasi juga akan dipengaruhi oleh komponen -komponen  berikut ini :
a.Sender / pengirim / sumber pesan / komunikator
b.Message / pesan / informasi
c.Receiver / penerima pesan
d.Channel / media yang digunakan
e.Objective / tujuan

Seorang ahli komunikasi (Laswe l l ) menganalisa komunikasi dengan Komunikasi sesuai Tumbuh Kembang Anak
a. Berkomunikasi dengan Bayi
Belum dapat mengekspresikan perasaan dan pikirannya dengan kata - kata, sehingga bahasa nonverbal sering digunakan mengungkapkan kebutuhan dengan tingkah laku dan bersuara yang dapat diinterpretasikan oleh orang sekitar .
ü Untuk bayi yang masih muda ( usia < 6 bulan )
Berespon positif terhadap kontak fisik yang lembut. Perilaku menggerak -gerakkan tangan, kaki, menendang yang merupakan rangsangan untuk memperoleh perhatian ( misalnya bayi ingin diberi sentuhan, didekap, digendong, diajak komunikasi dengan lembut ).
ü Untuk bayi yang lebih tua ( usia > 6 bulan )
Stranger anxiety atau cemas dengan orang asing yang belum dikenalnya, merupakan ciri perilaku yang sering muncul. Perhatiannya berpusat pada diri dan ibunya Perhatikan saat berkomunikasi dengannya. Lakukan komunikasi terlebih dahulu dengan ibunya dan atau mainan yang dipegangnya.

b. Berkomunikasi dengan Anak Balita ( Batita/usia bermain/toddler & Prasekolah )
Komunikasi verbal belum efektif, karena memang belum fasih dalam berbicara. Gunakan kata - kata simple, singkat, yang dikenal oleh anak karena anak hanya dapat menerima informasi secara harfiah. Beri pujian untuk hal-hal yang dicapai  Sangat egosentris. Hanya melihat sesuatu berpusat pada dirinya ( komunikasi berpusat pada dirinya ). Kenalkan alat -alat yang akan digunakan, termasuk juga dengan cara kerjanya. Beri kesempatan untuk bertanya dan memegang alat khususnya untuk anak prasekolah ( dengan melihat keadaan anak, sampai bagaimana alat tersebut akan digunakan ).

c.  Berkomunikasi dengan Anak Usia Sekolah
ü (Usia 5 - 8 tahun)
Anak usia tersebut, sangat memperhatikan keutuhan tubuhnya, oleh karena itu mereka peka terhadap sesuatu yang mengancam atau menyakitkan tubuhnya, sehingga beri pendekatan yang positif.
ü Anak Usia 8 - 12 tahun
Anak sudah mampu berfikir secara konkrit sehingga komunikasi lebih mudah dilakukan, misalnya dengan memberi contoh melakukan injeksi pada boneka. Hubungan dengan pemberi perawatan biasanya terjalin baik, sehingga pengalaman masa lalu bisa diandalkan.

F.   KEBUTUHAN GIZI BAGI BAYI DAN ANAK
Nutrien adalah zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh untuk tumbuh danberkembang. Setiap anak mempunyai kebutuhan-kebutuhan nutrien yang berbeda dan karakteristik yang khas dalam mengkonsumsimakanan.
Dampak nutrisi pada tumbuh-kembang anak :
Dampak psikologis, mencakup 3 aspek:
      Asupan nutrisi yang tepat untuk bayi, todler, prasekolah, usia sekolah dan remaja akan sangat berdampak pada pertumbuhan fisik, yaitu anak  akan bertambah berat dan bertambah tinggi.
1.      Psikodinamik
Pada usia bayi, pemenuhan kebutuhan yang utama adalah kebutuhan dasar melalui oral melalui oral.  Fase oral berhasil dilalui apabila anak mendapat kepuasan dalam pemenuhan kebutuhan oral saat makan. Dampak psikodinamik yang diperoleh bayi adalah kepuasan.

2.      Psikososial
Dampak psikososial yang diperoleh adalah tercapainya rasa percaya dan tidak percaya sebagai kegagalan dalam pemenuhan kebutuhan tersebut. Makanan dapat merupakan stimulus yang dapat meringankan rasa lapar anak, dan pemuasan yang konsisten terhadap rasa lapar dapat mempengaruhi kepercayaan anak pada lingkungannya, terutama keluarga.

3.      Maturasi organic
Perkembangan organik yang dialami anak melalui makanan adalah pengalaman  mendapatkan beberapa sensoris, spt rasa  atau pengecapan, penciuman, pergerakan, perabaanperabaan. Dengan makanan anak akan dapat meningkatkan keterampilan, spt memegang botol susu, memegang cangkir, sendok; dan keterampilan koordinasi gerak, seperti: menyuap dan menyendok makanan.
Gizi Seimbang adalah Keadaan yang menjamin tubuh memperoleh makanan yang cukup mengandung semua zat gizi dalam jumlah yang dibutuhkan. Gizi lengkap dan seimbang harus mengandung:
·      Bahan makanan sumber tenaga yang berfungsi untuk beraktifitas.
     contoh : beras, roti, kentang, mie.
·    Bahan makanan sumber zat pembangun berfungsi untuk pembentukan, pertumbuhan dan pemeliharaan sel tubuh. contoh: daging, ikan, telur (protein hewani) tempe, tahu (protein nabati)  Gizi lengkap dan seimbang harus mengandung:
·      Bahan makanan sumber zat pengatur berfungsi untuk mengatur proses metabolisme. contoh : sayuran: bayam, buncis, wortel, tomat.  buah-buahan: pisang, pepaya, jeruk, apebuah-apel.



NUTRISI UNTUK BAYI 0 – 6 BULAN
satu bentuk rangsang untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan otak bayi adalah dengan menerapkan pola asah, asih dan asuh dalam perawatannya sehari-hari, dalam pemberian ASI juga perlu ditunjang dengan pemenuhan zat-zat gizi yang tepat. ASI merupakan sumber makanan utama dan paling sempurna bagi bayi usia 0-6 bulan. Untuk itu harus diterapkan pola makan yang sehat agar zat gizi yang dibutuhkan dapat dipenuhi melalui ASI.
MAKANAN BAYI UMUR 6 – 12 BULAN
Dalam usia ini bayi mampu berkomunikasi meski dalam bentuk sangat sederhana. Berkat pemenuhan zat gizi yang diperolehnya dari ASI sejalan dengan peningkatan proses tumbuh kembang yang sedang dijalani, kini ASI saja tidak cukup untuk memenuhi zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuhnya, maka mulai usia ini perlu diperkenalkan beberapa jenis makanan padat yang disebut Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).

MAKANAN UNTUK PERKEMBANGAN ANAK USIA 12-18 BULAN
Asupan zat-zat gizi yang lengkap masih terus dibutuhkan anak selama proses tumbuh kembang masih terus berlanjut. Zat gizi yang dibutuhkan anak usia 12-18 bulan ini porsi makanan yang dikonsumsi sekarang ini yang bertambah, sesuai dengan pertambahan berat tubuhnya dan peniningkatan proses tumbuh kembang yang terjadi. Tubuh anak tetap membutuhkan semua zat gizi utama yaitu karbohidrat, lemak, protein, serat, vitamin dan mineral.

G. IMUNISASI
imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya.
Imunisasi biasanya lebih fokus diberikan kepada anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih belum sebaik orang dewasa, sehingga rentan terhadap serangan penyakit berbahaya. Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali, tetapi harus dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakit yang sangat membahayakan kesehatan dan hidup anak.
Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti hepatitis B, campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, gondongan, cacar air, tbc, dan lain sebagainya.
Macam-macam / jenis-jenis imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi pasif yang merupakan kekebalan bawaan dari ibu terhadap penyakit dan imunisasi aktif di mana kekebalannya harus didapat dari pemberian bibit penyakit lemah yang mudah dikalahkan oleh kekebalan tubuh biasa guna membentuk antibodi terhadap penyakit yang sama baik yang lemah maupun yang kuat.
Teknik atau cara pemberian imunisasi umumnya dilakukan dengan melemahkan virus atau bakteri penyebab penyakit lalu diberikan kepada seseorang dengan cara suntik atau minum/ telan. Setelah bibit penyakit masuk ke dalam tubuh kita maka tubuh akan terangsang untuk melawan penyakit tersebut dengan membantuk antibodi. Antibodi itu uumnya bisa terus ada di dalam tubuh orang yang telah diimunisasi untuk melawan penyakit yang mencoba menyerang.
G.  PENGKAJIAN FISIK
v  Keadaan umum meliputi kondisi klien secara umum, keletihan, penambahan atau penurunan berat badan, Menggigil, kemampuan umum menjalankan aktivitas, dll.
v  Antropometri meliputi Tinggi badan/panjang badan, Panjang badan anak dibawah 36 bulana. Caranya Tempatkan anak telentang dengan kepala tengah pegang lutut dan dorong dengan perlahan kearah pegang lutut dan dorong dengan perlahan kearah meja agar kaki ekstensi penuhmeja agar kaki ekstensi penuh, ukur panjang badan anak dari verteks (puncak) kepala sampai tumit  (jari kaki mengarahkeatas).keatas)
v  Lingkar kepala
v  Lingkar lengan
v  Lingkar dada
v  Tanda-tanda vital : suhu, nadi, pernapasan, tekanan darah
v  Kulit : Warna, tekstur, suhu dan turgor
v  Struktur aksesori
1). Rambut: inspeksi warna, tekstur, kualitas, distribusi, elastisitas, higiene
2). Kuku; inspeksi warna, tekstur, kualitas, distribusi, elastisitas, higiene
3). Observasi lipatan fleksi pada telapak tangan.
v  Nodus Limfe
v  Kepala  : bentuk dan kesimetrisan, kontrol kepala (terutama pada bayi) dan postur kepala, Wajah simetris, Evaluasi rentang gerak (gerakan kepala keatas, kebawah, kanan, dan kiri), Palpasi tengkorak (akan adanya fontanel, nodus, atau pembengkakan yang nyata), Periksa higiene kulit kepala ( adanya lesi, infestasi, trauma, kehilangan rambut, perubahan warna).
v   Leher : Inspeksi ukuran leher, Trakhea, Tiroid (palpasi ukuran, bentuk, kesimetrisan, nyeri tekan.
v  Mata :Inspeksi penempatan dan kesejajaran antar kedua mata, gerakan dan warna kelopak mata,  Inspeksi konjungtiva.
v  Telinga: inspeksi penempatan dan kesejajaran, Perhatikan adanya lubang abnormal, penebalan kulit, atau sinus, Inspeksi higiene telinga (bau, rabas, warna)
v  Hidung : cek ada/ tidaknya septum, Inspeksi struktur eksternal dan internal hidung, Inspeksi adanya discharge (sekret, warna)
v  Mulut
1) Bibir: perhatikan warna, tekstur dan lesi sebelumnya, Observasi membran mukosa: merah muda terang, berkulaiu, halus, sama, dan lembab
2) Gigi: jumlah sesuai dengan usia, putih, oklusi rahang atas dan bawah baik
3) Lidah: tekstur kasar, dapat bergerak bebas, ujung dapat mencapai bibir, tidak ada lesi atau massa dibawah lidah.
v  Dada: inspeksi ukuran, bentuk,kesimetrisan, gerakan dan perkembangan payudara: Lokalisasi ruang intercista; Kaji gerakan pernapasan: frekuesi, irama, kedalaman, kulaitas, dan karakter; Taktil fremitus: palpasi pada rongga torak dan minta anak untuk emngatakan “777” atau “eee”; Perkusi kedua sisi dada pada ruang intercosta; Auskultasi pernapasan dan bunyi suara: intensitas, nada, kualitas, durasi relatis dari inspirasi dan ekspirasi
v   Jantung : Mulai dengan inspeksi (Dinding dada simetris), diikuti dengan palpasi(menentukan lokasi impuls apical; kulit untuk waktu pengisian kapiler), kemudian auskultasi (bunyi jantung).
v  Abdomen : bentuk silinder dan menonjol pada posisi tegak dan datar bila terlentang pada bayi; Palpasi kemungkinan ada rasa tidak nyaman;  Inspeksi kontur, ukuran, dan tonus (tinus kuat, muskular pada pria remaja); Kaji kondisi kulit (halus dan rapi); Kaji gerakan abdomen) Pada anak dibawah 7-8 tahun meningkat pada inspirasi dan selaras dengan gerakan dada; Inspeksi umbilikus akan adanya herniasi, fistula, higiene, dan rabas; Auskultasi bisig usus pulsasi aortic.
Perkusi abdomen : Timpani pada lambung pada sisi kiri dan seluruh abdomen, kecuali untuk pekak atau datar tepat dibawah marjin kostal kanan (hepar)
Palpasi organ abdomen : Hepar: 1-2 jari dibawah marjin kostal kanan pada bayi dan anak kesil; Limpa : 1-2 cm dibawah maerjin kostal kiri pada bayi dan anak kecil; Palpasi nadi femoralis: tempatkan ujung 2-3 jari ditengah antara puncak iliaka dan simpisis pubis; Timbulkan reflek abdomen: regangkan kulit dari samping ke garis tengah pada setiap kuadran. Umbilikus bergerak kearah kuadran yang ditekan.
v  Genitalia
inspeksi ukuran, adanya tanda-tanda pembengkakan, lesi, inflamasi, perhatikan adanya rabas, inspeksi lokasi , kulit, dan distribusi rambut. Mungkin tampak besar pada bayi, tergantung bebas dari peinium dibelakang penis, satu kantung tergantung lebih rendah dari yang lain, kulit kendur keriput, biasanya merah dan kasar pada remaja, palpasi adanya massa, lipatan tebal kulit membentuk mons pada komisura posterior, permukaan dalam merah muda dan lembab. Anus : umum, kondisi kulit ; Bokong: lipatan padat, lipatan gluteal simetris; Reflek anal: munculkan dengan mengerutkan atau meregangkan area perianal dengan perlahan. Kontraksi cepat sfingter anal eksterna, tidak ada protusi rekstum.
v  Punggung dan Ekstremitas
1). Inspeksi kurvatura dan kesimetrisan tulang belakang. Pada bayi baru lahir berbentuk C atau bulat. Kurva sekunder servikal terbentuk kira-kira pada usia 3 bulan. Lordosis merupakan hal yang normal apda anak kecil tapi berkurang sesuai usia.
2). Uji adanya skoliosis. Bahu, skapula, dan puncak iliaka simetris
3). Observasi mobilitas tulang belakang. Fleksibel, rentang gerak penuuh, tidak ada nyeri atau kekakuan.
4). Inspeksi setiap sendi ekstremitas untuk kesimetrisan, ukuran (sama), suhu, warna, nyeri tekan, mobilitas, jumlah jari tepat, kuku merah muda.
5). Inspeksi posisi telapak kaki, uji apakah ada deformitas kaki apd saat lahir merupakan akibat dari posisi fetal atau perkembangan leh peegangan keluar
6). Inspeksi cara berjalan. Minta anak berjalan apda garis lurus
7). Kaji reflek plantar: usap telapak kai lateral dari tumit kedepan ke ibu jari kaki melewati haluks. Fleksi ibu jari kaki pada anak diatas usia 1 tahun.
8). Kaji kekuatan otot:
a. Lengan: minta anak mengangkat tangan sambil melawan tekanan dari tangan anda
b. Kaki: minta anak duduk dengan kaki menggantung, lanjutkan seperti pada tangan.
c. Telapak tangan: Minta anak meremas jari anda sekencang mungkin
d. Telapak kaki: minta anak memfleksikan plantar, dorong telapak kai kearah lantai sambil menekan telapak kaki.















BAB III
 PENUTUP

KESIMPULAN
Perawatan anak berfokus pada anak mencakup perkembangan keperawatan anak, falsafah keperawatan anak dan peran perawat anak. Kehidupan anak dapat ditentukan oleh lingkungan keluarga, untuk itu keperawatan anak harus mengenal keluarga sebagai tempat tinggal atau sebagai konstanta tetap dalam kehidupan anak
Makanan memegang peranan penting dalam pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak oleh karenanya, pola makan yang baik dan teratur perlu diperkenalkan sejak dini, antara lain dengan pengenalan jam-jam makan dan variasi makanan.

SARAN
Kebutuhan bahan makanan itu perlu diatur, sehingga anak mendapatkan asupan gizi yang diperlukannya secara utuh dalam satu hari. Pada usia balita, anak mulai memiliki daya ingat yang kuat dan tajam, sehingga apa yang diterimanya akan terus melekat erat sampai usia selanjutnya. Dengan memperkenalkan anak pada jam-jam makan yang teratur dan variasi jenis makanan, diharapkan anak akan memiliki disiplin makan yang baik. Pola makan yang baik semestinya juga mengikuti pola gizi seimbang, yaitu pemenuhan zat-zat gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh dan diperoleh melalui makanan sehari-hari. Dengan makan makanan bergizi seimbang secara teratur, diharapkan pertumbuhan anak akan berjalan optimal. Disadari maupun tidak, Anda sedang mengajarkan pola hidup teratur dan sehat pada anak sejak dini





DFTAR PUSTAKA
      tanggal 15 Mei 2011
( Champbell dan Glasper, 1995)
Bates, Barbara. 1997. Buku Saku Pemeriksaan fisik dan Riwayat Kesehatan. Edisi 2. Jakarta:
      EGC
Hidayat, Aiziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu keperawatan Anak. Buku 1. jakarta: Salemba
     Medika.

Sacharin, Rosa M.1996.Prinsip Keperawatan Pediatrik. Edisi 2. Jakarta: EGC

Wong, Donna L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Edisi 4. jakarta: EGC

http://PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK -Keperawatan/Nursing Tutorial.  

    diakses tanggal 15 Mei 2011

file:///E:/Ners%20Corner%20%20PERSPEKTIF%20KEPERAWATAN%20ANAK.htm

    diakses tanggal 15 Mei 2011


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar