Jumat, 23 September 2011

sifilis

A. Pengertian Seifilis




Sifilis ialah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema Pallidum; sangat kronik dan bersifat sistemik. Dapat menyerang hampir semua alat tubuh, dapat menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten, dan dapat ditularkan dari ibu ke janin. ( Adji Joanda, 2005 : 391 )
Penyakit yang sering disebut masyarakat Indonesia ‘Raja Singa’ disebabkan bakteri yang berasal dari famili spirochaetaceae ini, memiliki ukuran yang sangat kecil dan dapat hidup hampir di seluruh bagian tubuh. Spirochaeta penyebab sifilis dapat ditularkan dari satu orang ke orang yang lain melalui hubungan genito-genital (kelamin-kelamin) maupun oro-genital (seks oral). Infeksi ini juga dapat ditularkan oleh seorang ibu kepada bayinya selama masa kehamilan. Anda tidak dapat tertular oleh sifilis dari handuk, pegangan pintu atau WC duduk.

B. Etiologi
Penyebab penyakit in adalah Treponema Pallidum yang termasuk ordo spirochaetales familia, spirochaetacae dan genus treponema. Bentuk spiral panjang antara 6-15 m lebar 0,15 m. gerakan rotasi dan maju seperti gerakan membuka botol. Berkembang biak secara pembelahan melintang pembelahan terjadi setiap 30 jam pada stadium aktif.
C. Kasifikasi
1. Sifilis kogenital
 Dini (sebelum 2 tahun)
 Lanjut (sesudah 2 tahun)
 stigmata
2. Sifilis Akuista (didapat)
Sifilis akuista dibagi menurut 2 cara : secara kliniks dan epidemiolgi. Menurut cara pertama sifilis dibagi mennjadi 3 stadium : stadium I (SI), stadium II (SII) dan stadium III (SIII). Secara epidemiologic meurut WHO dibagi menjadi :
 Stadium dini menular (dalam 1 tahun sejak terinfeksi), terdiri atas SI, SII, stadium rekuren dan stadium laten dini.
 Stadium lanjut tak menular (setelah 1 tahun sejak terinfeksi), terdiri dari stadium laten lanjut dan S III.

D. Patogenesis
Stadium dini
T. Pallidum masuk ke kulit -> kuman berkembangbiak -> jaringan bereaksi-> membentuk infiltrat -> pembulu darah berproliferasi di kelilingi oleh T. pallidum -> sel meradang -> perubahan hipertrofik endothelium -> menimbulkan obliterasi lumen (enarteritis obliterans). Kehilangan pendarahan akan menyebabkan erosi, pada pemerksaan klinis akan tampak sebagai S I.
Sebelum S I terlihat kuman telah mencapai kelenjar getah bening regional secara limfogen dan membiak. Pada saat itu terjadi pula penjalaran hematogen dan menyebar ke semua jaringan tubuh, tetapi manifestasinya akan tampak kemudian. Multiplikasi ini diikuti oleh reaksi jaringan sebagai S II, yang terjadi enam sampai delapan bulanminggu sesudah S I. SI akan sembuh perlahan-lahan karena jumlah kuman di tempat tersebut semakin berkurang, kemudian terbentukalh fibroblast dan akhirnya sembuh berupasikatriks. S II juga mengalami regrasi pelahan-lahan dan lalu menjghilang.
Tibalah di stadium laten yang tidak disertai gejala, meskipun infeksinya masih aktif. Sebagai contoh ibu yang melahirkan bayi dengan sifilis kogenital.
Kadang-kadang imunitas tubuh gagal mengontrol infeksi sehingga T.pallidum sehingga kuman membiak lagi pada tempat S I dan menimbulkan lesi rekuren atau kuamn tersebut menyebar ke jaringan dan menyebabkan reaksi serupa lesi rekuren S II, yang terakhir ini lebih sering terjadi dari pada yang terdahulu. Lesi menular tersebut dapat timbul secara berulang-ulang namun pada umumnya tidak melebihi dari 2 tahun.

Stadium lanjut

Penularan sifilis adalah secara kontak langsung dari lesi infeksius. Treponema menembus selaput lendir, kemudian masuk ke kelenjar limfe, dari sini ia akan bermigrasi ke pembuluh darah, yang akhirnya dapat tersebar ke seluruh tubuh.
Perjalanan alamiah penyakit sifilis bila tanpa terapi akan melalui tahap-tahap:
1. Sifilis primer
2. Sifilis sekunder
3. Sifilis laten dini
4. Sifilis laten lanjut atau sifilis tertier benigna / sifilis kardiovaskuler / neurosifilis
5. Sifilis lanjut
Keterangan :
1. Sifilis Primer
• Ulkus di daerah genital eksterna, muncul + 3 minggu setelah coitus suspectus (hubungan seks yang dicurigai sebagai awal penularan).
• Lesi tunggal / multipel, ukuran 1-2 cm.
• Lesi dimulai dengan adanya papula yang mengalami erosi, keras, permukaan tertutup krusta, lama-kelamaan terbentuk ulserasi.
• Tepi ulkus meninggi, teraba keras (sehingga disebut ulkus durum / chancre).
• Pembesaran limfonodi inguinal bilateral akibat penjalaran treponema ke kelenjar limfe.
• Tidak terasa sakit, biasanya sembuh spontan dalam 4-6 minggu.
2. Sifilis Sekunder
• Muncul ruam pada kulit, selaput lendir, dan organ tubuh lain.
• Disertai gejala prodromal (demam, malaise).
• Lesi kulit simetris, berupa makula atau papula (menyerupai jerawat / acne atau psoriasis yang tidak sembuh-sembuh).
• Lesi dapat pula berupa folikulitis, papuloskuamosa, pustula.
• Pada rambut terjadi alopesia : moth-eaten alopecia (botak yang khas dari sifilis yaitu tepi botak yang tidak jelas seperti digigit tikus), letaknya pada oksipital.
• Kondilomata lata : papula basah di daerah lembab, warna keputihan, permukaan datar.
• Lesi yang timbul pada mukosa mulut, kerongkongan, atau serviks berbentuk plakat.
• Terjadi pembesaran kelenjar limfe multipel.
• Splenomegali.
3. Sifilis Laten Dini
• Merupakan stadium sifilis tanpa gejala klinis.
• Tes serologis reaktif (positif bila tes titer VDRL > 1 / 16).
• Berlangsung kurang dari setahun.
4. Sifilis Laten Lanjut
• Lesi berupa gumma (bentuknya hampir sama dengan ulkus durum / ulkus primer). Gumma dapat terjadi di semua organ. Gumma pada kulit berupa lesi granulomatous berbentuk nodul dengan ulserasi (nodulo-ulseratif) mengeluarkan cairan mirip getah atau perkejuan.
• Dapat terjadi endarteritis obliterans pada bagian ujung arteriola dan pembuluh darah kecil yang menyebabkan terjadinya peradangan dan nekrosis.
• Dapat terjadi neurosifilis atau kardiosifilis.
5. Sifilis Pada Kehamilan dan Sifilis Kongenital
• Infeksi janin terjadi pada umur 10 minggu.
• Infeksi ibu yang terjadi pada tingkat dini bila tidak diobati akan menular ke bayi.
• Semakin lama ibu terkena infeksi (maksudnya semakin lama jarak antara infeksi dan kehamilan), maka semakin sedikit kemungkinan menginfeksi janin.
a. Sifilis Kongenital Dini
• Yaitu sifilis kongenital yang muncul sebelum umur 2 tahun
• Lesi kulit terjadi segera setelah lahir, berupa lesi vesikobulosa yang akan berlanjut menjadi erosi. Beberapa minggu kemudian dapat terjadi papuloskuamosa
• Pada mukosa hidung dan pharing terjadi perdarahan
• Pada tulang dapat terjadi osteokondritis tulang panjang
• Anemia hemolitik
• Hepatosplenomegali
• Gangguan SSP (kejang-kejang)
b. Sifilis Kongenital Lanjut
• Yaitu sifilis kongenital yang muncul sesudah umur 2 tahun
• Keratitis interstisialis terjadi pada umur pubertas dan bilateral
• Gigi Hutchinson (gigi yang kecil seperti gergaji akibat gangguan pembentukan gigi susu sentral)
• Gigi Mulberry (gigi berbentuk kubah menyerupai buah mulberry)
• Gangguan saraf pusat VIII – tuli
• Neurosifilis
• Sklerosis tulang yang memberi gambaran seperti pedang (saber appearance)
• Rhagade (garis-garis sekitar mulut, mata, lubang hidung akibat sikatriks radier)
• Gangguan kardiovaskular
E. Penatalaksanaan
Penderita sifilis diberi antibiotik penisilin (paling efektif). Bagi yang alergi penisillin diberikan tetrasiklin 4 500 mg/hr atau eritromisin 4 500 mg/hr atau doksisiklin 2 100 mg/hr. Lama pengobatan 15 hari bagi S I & S II dan 30 hari untuk stadium laten. Eritromisin diberikan bagi ibu hamil efektifitas meragukan. Doksisiklin memiliki tingkat absorbsi lebih baik dari tetrasiklin yaitu 90-100% sedangkan tetrasiklin hanya 60-80%.
Obat lain adalah golongan sefalosporin misalnya sefaleksin 4 500 mg/hr selama 15 hari Sefaloridin memberi hasil baik pada sifilis dini Azitromisin dapat digunakan untuk S I dan S II.
F. Komplikasi
• Penyakit kardiovaskular
• Penyakit system saraf pusat
• Glomerulonefritis membranosa
• Paroxysmal cold hemoglobinemia
• Kerusakan organ
• Jarisch-Herxheimer reaction, ditandai oleh demam, menggigil, sakit kepala, myalgia, rash baru yang biasanya muncul pada awal pengobatan (pada sifilis primer atau skunder, namun jarang terjadi pada sifilis tersier) akibat lisis treponema dan harus dibedakan bukan merupakan reaksi terhadap antibiotik. Biasanya penatalaksanaannya dengan pemberian antihistamin dan antipiretik.
B. Asuhan Keperawatan
1. Identitas Klien
• Nama
• Umur
• Jenis kelamin
• Alamat
• Agama
• Pendidkan
2. Riwayat Kesehatan
• Keluhan Utama : keluhan yang mengakibatkan klien masuk ke Rumah Sakit. Biasanya klien mengeluh bahwa munculnya luka yang kemerahan dan basah di daerah vagina atau penis, poros usus atau mulut. Selain itu para penderita juga akan mengalami ruam, khususnya di telapak kaki dan tangan. Mereka juga dapat menemukan adanya luka-luka di bibir, mulut, tenggorokan, vagina dan dubur. Gejala-gejala yang dialami mirip dengan flu, seperti demam dan pegal-pegal.
• Riwayat Kesehatan Sekarang : riwayat kesehatan yang berhubungan dengan penyakit yang diderita klien. Biasanya klien akan mengeluh bahwa penderita menderita luka di daerah alat kelaminnya. Timbul ruam dan disertai demam, flu dan pegal pegal. Luka tersebut tidak hanya di bagian kelamin klien juga terdapat di bibir, mulut dan tenggorokan.
• Riwayat Kesehatan Dahulu : Riwayat kesehatan dahulu biasanya berhubungan dan bisa menyebabkan klien menderita penyakit ini, contohnya seperti HIV/AIDS. Kaji apakah klien mempunyai kebiasaan sex bebas, tidak menggunakan alat kontrasepsi yang baru dan steril dan menggunankan lagi pada pasangan lain.
• Riwayat Kesehatan Keluarga : kaji apakah sewaktu hamil menderita penyakit yang serupa atau menderita penyakit yang bisa menimbulkan penyakit sifilis ini.
3. Pemeriksaan Laboratorium
1. Pemeriksaan mikroskop medan gelap (dark field) : Ulkus / lesi dibersihkan dengan NaCl, kemudian ambil serum yang keluar, diletakkan pada object glass, lalu dilihat di bawah mikroskop. Apabila tidak ditemukan T. pallidum, lakukan lagi selama 3 hari berturut-turut.
2. Tes serologis dengan antibodi serum : VDRL atau TPHA
- Tes VDRL (Venereal Disease Research Laboratory) menggunakan antigen kardiolipin, bersifat tidak spesifik karena sebagian besar penyakit kolagen akan positif pada tes ini. Namun tes VDRL cukup diandalkan untuk penapisan (screening) karena murah dan mudah dikerjakan. Tes VDRL dinyatakan positif bila titernya > 1/16.
- Tes TPHA (Treponema Pallidum Hemaglutinin Assay) bersifat lebih spesifik, tetapi mahal dan sulit dikerjakan.
Terapi
1. Sifilis primer & sekunder
• Benzatin penisilin G 2,4 juta IU, IM, dosis tunggal
• Untuk anak : 50.000 IU/kg , IM, dosis tunggal
2. Sifilis laten
• Sifilis laten dini : Benzatin penisilin G 2,4 juta IU, IM, dosis tunggal
• Sifilis laten lanjut : Benzatin penisilin G 2,4 juta IU, IM/minggu, selama 3 minggu
• Anak : 50.000 IU/kg, IM, dosis tunggal, atau 50.000 IU/kg, IM/minggu, selama 3 minggu
3. Sifilis tersier
• Benzatin penisilin G 2,4 juta IU/minggu, selama 3 minggu
• Tindak lanjut : ulang tes serologis setelah 6, 12, dan 24 bulan
• Terapi berhasil jika titer turun 4 kali lipat
4. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan kulit kelamin



5. Pemeriksaan Gordon
Pengkajian 11 PolaFungsional Gordon:
a. Pola Persepsi Kesehatan
• Tanyakan kepada klien apakah ada riwayat infeksi sebelumya, apakah pengobatan sebelumnya tidak berhasil, adanya riwayat mengonsumsi obat-obatan tertentu, mis., vitamin; jamu, adakah konsultasi rutin ke Dokter, apakah hygiene personal yang kurang, dan apakah lingkungan tempat tinggal kien kurang sehat, tinggal berdesak-desakan.
• Tanyakan bagaimana pandangan klien terhadap penyakit yang dideritanya, apakah klien mengetahui apa penyebab penyakitnya, gejala gejala penyakitnya, dan dampak dari penyakit yang dideritanya.
b. Pola Nutrisi Metabolik
• Tanyakan kepada klien pola makan sehari-hari : jumlah makanan, waktu makan, berapa kali sehari makan, kebiasaan mengonsumsi makanan tertentu: berminyak, pedas, jenis makanan yang disukai. Apakah nafsu makan menurun, adanya muntah-muntah, penurunan berat badan.
c. Pola Eliminasi
• Tanyakan pada klien apakah sering berkeringat dan tanyakan pola berkemih dan defekasi klien. Apakah terjadi perubahan sebelum klien menderita sakit dan selama klien sakit. Apakah warna eliminasi dan defekasi klien terdapat darah, bernanah dan bagaimana bau dari

d. Pola Aktivitas dan Latihan
• Tanyakan pada klien apakah ada pemenuhan sehari-hari yang terganggu, kelemahan umum, malaise.Toleransi terhadap aktivitas rendah, mudah berkeringat saat melakukan aktivitas ringan dan adanya perubahan pola napas saat melakukan aktivitas.
e. Pola Tidur dan Istirahat
• Tanyakan pada klien apakah klien merasa kesulitan tidur pada malam hari karena stres dan adanya mimpi buruk.

f. Pola Persepsi Kognitif
• Tanyakan klien apakah ada perubahan dalam konsentrasi dan daya ingat dan pengetahuan klien akan penyakitnya.

g. Pola Persepsi dan Konsep Diri
• Tanyakan pada klien apakah ada perasaan tidak percaya diri atau minder dan perasaan terisolasi.

h. Pola Hubungan dengan Sesama
• Tanyakan klien apakah klien hidup sendiri atau berkeluarga apakah frekuensi interaksi berkurang dan apakah ada perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.



i. Pola Reproduksi Seksualitas
• Tanyakan pada klien apakah ada gangguan pemenuhan kebutuhan biologis dengan pasangan dan apakah penggunaan obat KB mempengaruhi hormon.

j. Pola Mekanisme Koping dan Toleransi Terhadap Stress
• Tanyakan pada klien apakah emosi klien stabil, apakah klien ansietas, takut akan penyakitnya dan pakah ada disorientasi, gelisah.

k. Pola Sistem Kepercayaan
• Tanyakan perubahan dalam diri klien dalam melakukan ibadah dan agama yang dianut klien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar