Selasa, 25 Oktober 2011

ASKEP katarak



1. Defenisi Katarak
Katarak merupakan suatu kekeruhan lensa yang terjadi pada mata, katarak memiliki derajat kepadatan yang sangat bervariasi dan dapat disebabkan oleh berbagai hal, tetapi biasanya berkaiatan dengan proses penuaan (Vaughan, 2000). Katarak adalah opasitas lensa kristalina yang normalnya jernih (Brunner, 2002).


Tahap Perkembangan katarak :
1. Immature Cataract
Pandangan menjadi agak buram dan bebrapa sinar diteruskan, penglihatan masih berfungsi
2. Matur Cataract
Pandangan seluruhnya buram, penglihatan menurun
3. Intumescent Cataract
Lensa mata berair, lensa mungkin mengalami imatur / matur dan kemungkinan adanya glaukoma.
4. Hipermature Cataract
Kemungkinan adanya phacolytic glaukoma ditandai dengan obstruksi dan penyerapan protein makrofag 

2. Etiologi
  • Belum diketahui secara pasti
  •  Proses alami : degeneratif 
  • Dapat dipicu oleh penyakit Diabetes dan glaucoma 
  • Trauma yang mengenai lensa mata
3 Patofisiologi
Lensa mata mengandung tiga komponen anatomis antara lain: nukleus korteks dan kapsul. Nukleus mengalami perubahan warna coklat kekuningan seiring dengan bertambahnya usia. Disekitar opasitas terdapat densitas seperti duri dianterior & posterior nukleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna. Perubahan fisik dan kimia dalam lensa mengakibatkan hilangnya transparansi. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai infulks air kedalam lensa proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain mengatakan bahwa suatu enzim mempunyai peranan dalam melindungi lensa dari degenerasi. Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien menderita katarak.

4. Klasifikasi Katarak
  • Katarak Senilis yaitu semua kekeruhan yang terdapat pada usia diatas 50 tahun
  • Katarak congenital (infantilis) adalah katarak yang didapat. Katarak yang mulai terjadi sebelum / segera setelah lahir dari plasenta bayi berusia kurang dari 1 tahun 
  • Katarak Traumatik, Katarak yang terjadi karena adanya taraumatik yang mengenai mata dan daerah disekitarnya.
  • Katarak Diabetikum merupakan katarak yang terjadi akibat penyakit diabetes melitus ( DM ) 
  • Katarak Komplikata atau kondikat merupakan katarak akibat penyakit lain seperti radang dan proses degenerasi seperti ablasi retina, retinitis pigmetosa, glaukoma, tumor intraokuler, iskemia okuler, helersis anterior segmen, buttalmos akibat suatu trauma dan pasca bedah mata 
  • Katarak Rubela. Rubela pada ibu dapat mengakibatkan katarak pada lensa, tedapat 2 bentuk kekeruhan yaitu kekeruhan sentral dengan perifer jernih seperti mutiara / kekeruhan diluar nuklear yaitu korteks anterior dan posterior / total 
  • Katarak akibat penyakit sistemikhttp://www.uic.edu/com/eye/LearningAboutVision/EyeFacts/SystemicDisease.shtml
  • Katarak Toksik 
  • Katarak Sekunder. Katarak yang terjadi akibat terbentuknya jaringan fibrosa pada sisa lensa yang tertinggal, paling cepat keadaan ini terlihat sesudah 2 hari EKEK ( Ekstrasi Katarak Ekstra Kapsular ) 
  • Katarak Juvenil yaitu katarak lembek dan terdapat pada orang muda yang mulai terbentuk pada usia kurang dari 9 tahun dan lebih dari 8 bulan.
 5. Manifestasi Klinis
  • Terjadi penurunan ketajaman penglihatan 
  • Silau dan gangguan fungsional sampai derajat tertentu 
  • Temuan objektif meliputi pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tidak akan tampak dengan oftalmoskop 
  • Pandangan kabur atau redup, menyilaukan yang menjengkelkan dengan distorsi bayangan  
  • Susah melihat pada malam hari 
  • Pupil tampak kekuning-kuningan, abu-abu atau putih.
6. Pemeriksaan Diagnosis
Pemeriksaan yang dilakukan pada lensa adalah pemeriksaan ketajaman penglihatan, dan dengan melihat lensa melalui slitlamp, oftalmoskop, senter tangan, atau kaca pembesar dan dilatasi pupil.

7. Pengkajian
     Riwayat Kesehatan Sekarang
Pre Operasi :
  • penurunan ketajaman penglihatan 
  • silau dan gangguan fungsional sampai derajat tertentu 
  • pandangan kabur atau redup, menyilaukan yang menjengkelkan dengan distorsi bayangan 
  • susah melihat pada malam hari  
  • Gangguan aktivitas pemenuhan kebutuhan sehari-hari 
  • Kecemasan atau ketakutan akan mengalami kehilangan fungsi penglihatan 
  • Kecemasan karena akan menjalani pembedahan katarak
Pasca Operasi :
  • Nyeri akut
  • Cemas atau takut kehilangan penglihatan dan takut beraktivitas
  • Takut beraktivitas dan tidak mengetahui bagaimana merawat mata setelah operasi
 Riwayat Kesehatan Dahulu :
  • Apakah pasien pernah mengalami gangguan dan penyakit pada mata  
  • Pernah menjalani pembedahan mata sebelumnya 
  • Menderita penyakit diabetes mellitus, hipertensi 
  • Riwayat okuler lain
Riwayat Kesehatan Keluarga 
Menderita penyakit keturunan yang memicu penyakit katarak

Pengkajian Tambahan
Pengkajian pemahaman pasien tentang perawatan dan penatalaksanaan mata 

8. Komplikasi

  • nistagmus dan strabismus 
  • Infeksi struktur okuler 
  • Ablasio retina
  • Hipertensi intraokuler
  • Pembentukan katarak sekunder
  • Perforasi bola mata
 
B. PEMERIKSAAN FUNGSIONAL GORDON
                Ny. E (65 th), datang ke poliklinik RS.Dr.M.Djamil Padang bersama Keluarga, mengeluh ketajaman penglihatannya menurun, silau dan sering menabrak perabotan dan benda di sekitar rumah pada malam hari. 1 hari yang lalu Ny.E jatuh di kamar mandi karena pandangannya kabur dan tidak melihat perbedaan tinggi lantai kamar mandi dan lantai kamar. Dari pemeriksaan lensa tampak keruh. Hasil konsultasi dengan dokter spesialis mata Ny.E disarankan untuk segera menjalani operasi katarak. Ny.E belum bisa memutuskan untuk menerima saran tersebut, karena takut akan mengalami kebutaan setelah operasi nanti. Menurut Ny.E, tetangganya mengalami gangguan penglihatan lebih parah setelah menjalani operasi katarak.

a.    Pengkajian identitas klien
Nama                 : Ny. E
Umur                 : 65 th
Jenis Kelamin    : Perempuan

b. Riwayat kesehatan
a)  Keluhan Utama
Klien mengeluh ketajaman penglihatannya menurun, silau dan sering menabrak perabotan dan benda di sekitar rumah pada malam hari. 1 hari yang lalu Ny.E jatuh di kamar mandi karena pandangannya kabur dan tidak melihat perbedaan tinggi lantai kamar mandi dan lantai kamar.

b)   Riwayat Kesehatan Sekarang
Ny. E (65 th), datang ke poliklinik RS.Dr.M.Djamil Padang bersama Keluarga, mengeluh ketajaman penglihatannya menurun, silau dan sering menabrak perabotan dan benda di sekitar rumah pada malam hari. 1 hari yang lalu Ny.E jatuh di kamar mandi karena pandangannya kabur dan tidak melihat perbedaan tinggi lantai kamar mandi dan lantai kamar. Dari pemeriksaan lensa tampak keruh. Hasil konsultasi dengan dokter spesialis mata Ny.E disarankan untuk segera menjalani operasi katarak. Ny.E belum bisa memutuskan untuk menerima saran tersebut, karena takut akan mengalami kebutaan setelah operasi nanti.

c)    Riwayat Kesehatan yang lalu
Tanyakan kepada klien apakah klien memiliki penyakit yang bisa memicu klien memiliki penyakit katarak tersebut.

d)   Riwayat Kesehatan Keluarga
Tanyakan apakah anggota keluarga klien pernah menderita diabetes, hipertensi dan yang lainnya.

c. Pengkajian pola fungsional gordon
a)    Riwayat Pola Persepsi Kesehatan dan Manajemen Kesehatan
Klien mengalami bahwa ketajaman penglihatannya menurun, silau dan sering menabrak perabotan dan benda di sekitar rumah pada malam hari. Selain itu klien juga merasa bahwa pandangannya kabur dan tidak melihat perbedaan tinggi lantai.

b)   Pola Nutrisi Metabolik
Kaji bagaimana pola nutrisi klien, makanan dan cairan apa yang disukai klien ataupun pantangan klien. Apakah klien merasa mual atau muntah. Dan bagaimana klien dengan pola nutrisinya sewaktu sebelum sakit dan sekarang.

c)    Pola Eliminasi-Defekasi
Kaji bagaimana pola eliminasi dan defekasi klien. Tanyakan bagaimana warna, jumlah, bau, konsistensi eliminasi dan defekasi klien. Apakah mengalami perubahan karena penyakit yanh diderita klien atau tidak. Apakah klien mengalami diare atau wasir.

d)   Pola Aktivitas dan Latihan
Klien mengatakan bahwa ketajaman penglihatannya menurun, silau dan sering menabrak perabotan dan benda di sekitar rumah pada malam hari. Selain itu klien juga merasa bahwa pandangannya kabur dan tidak melihat perbedaan tinggi lantai.
Kaji bagaimana pola aktivitas dan latihan klien, apakah mengalami gangguan atau tidak. Kaji apakah klien dapat melakukan aktivitasnya sendiri atau dibantu keluarga.

e)    Pola Tidur dan Istirahat
Kaji bagaimana pola istirahat dan tidur klien selama sakit dan bandingkan dengan pola tidur klien sebelum sakit, apakah terjadi perubahan atau tidak. Kaji kepuasan klien terhadap istirahat dan tidur klien tersebut.

f)    Pola  Kognitif-perseptual
Klien mengalami penurunan ketajaman penglihatan, klien sering merasa silau dalam melihat sesuatu hal dan mengakibatkan klien sering menabrak perabotan dan benda disekitar rumah pada malam hari. Klien juga mengatakan bahwa penglihatannya kabur dan susah melihat perbedaan tinggi lantai.

g)   Pola Persepsi Konsep Diri
Klien mengalami kecemasan setelah berkonsultasi dengan dokter. Klien mengatakan bahwa dia mendengar bahwa proses pengobatan yang disarankan dokter terjadi juga pada tetangga klien dan hasilnya matanya semakin mengalami keparahan.

h)  Pola Peran dan Hubungan
Kaji bagaimana peran klien dalam keluarga dan lingkungannya. Dan kaji bagaimana hubungan klien dengan anggota keluarga dan lingkungan disekitar temapat tinggal klien tersebut.

i)     Pola Seksualitas dan Reproduksi
Biasanya terjadi penurunan seksualitas karena kondisi klien yang lemah dan nyeri yang dirasakan.

j)     Pola Koping dan Toleransi Stress
Kaji bagaimana klien menghadapi stres yang dialaminya dan siapa saja yang biasa membantu klien dalam menghadapi stres yang klien rasakan.

k)  Pola Nilai dan Kepercayaan
Biasanya aktivitas ibadah klien terganggu karena keterbatasan aktivtas.

d. Pemeriksaan Penunjang
a)    Pemeriksaan tanda tanda vital
b)   Kesadaran umum

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN PADA KASUS Ny. E BESERTA NANDA, NOC, NIC
a. Diagnosa Pre Operasi
1. Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan keterbatasan penglihatan
Tujuan : Cidera tidak terjadi.
Kriteria hasil : Klien tidak mengalami cidera atau trauma jaringan
Intervesi :
• Orientasikan klien pada lingkungan ketika tiba.
• Modifikasi lingkungan untuk menghilangkan kemungkinan bahaya.
- Singkirkan penghalang dari jalur berjalan.
- Singkrkan sedotan dari baki.
- Pastikan pintu dan laci tetap tertutup atau terbuka secara sempurna.
• Tinggikan pengaman tempat tidur. Letakkan benda dimana klien dapat melihat dan meraihnya tanpa klien menjangkau terlalu jauh.
• Bantu klien dan keluarga mengevaluasi lingkungan rumah untuk kemungkinan bahaya.
- karpet yang tersingkap.
- Kabel listrik yang terpapar.
- Perabot yang rendah
- Binatang peliharaan
- Tangga
2. Kecemasan berhubungan dengan kurang terpapar terhadap informasi tentang prosedur tindakan pembedahan
NANDA
Defenisi : Sebuah perasaan ketidaknyamanan, tidak enak atau takut samar-samar disertai oleh respon otonom sumbernya sering tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu, perasaan ketakutan yang disebabkan oleh antisipasi bahaya. itu adalah mengubah sinyal yang memperingatkan bahaya yang akan datang dan memungkinkan individu untuk mengambil langkah-langkah untuk menghadapi ancaman
Batasan karakteristik:
·      Insomnia
·      Kawatir
·      Menggigil
·      Gelisah
·      Tidak nafsu makan
·      Tekanan darah meningkat
·      Sulit konsentrasi
NOC :
Kontrol kecemasan
Indikator:
Ø  Memonitor intensitas kecemasan
Ø  Mengeliminasi penyebab kecemasan
Ø  Menurunkan stimulasi lingkungan ketika cemas
Ø  Merencanakan strategi koping 
Ø  Gunakan strategi koping yag efektif
Ø  Gunakan teknik relaksasi
Ø  Perhatikan hubungan social
Ø  Laporkan tidur yang tidak adekuat
Ø  Control respon cemas
NIC :
Penurunan kecemasan
Aktifitas:
o   Gunakan ketenangan, meyakinkan pendekatan
o   Jelaskan semua prosedur
o   Lihat untuk mengerti perspektif pasien terhadap situasi stress
o   Sediakan informasi tentang diagnosis, pengobatan, dan prognosis
o   Tetap bersama pasien untuk kenyamanan dan mengurangi takut
o   Tanggapi perilaku
o   Ciptakan suasana untuk menfasilitasi kepercayaan
o   Menyemangati secara verbal mengenai perasaan, persepsi, dan ketakutan
o   Identifikasi perubahan tingkat kecemasan
o   Bantu pasien mengidentifikasi situasi yang menurunkan kecemasan
o   Ajarkan klien menggunakan teknik relaksasi
o   Gunakan obat-obatan untuk mengurangi kecemasan, jika diperlukan

D. PERSIAPAN YANG DILAKUKAN OLEH PERAWAT SEBELUM MELAKUKAN OPERASI
          Tindakan yang harus dipersiapkan oleh perawat sebelum melakukan operasi, antara lain :
1. Membuat dan menentukan kontrak dengan klien sebelum melakukan operasi
2. Menjalin kerjasama dengan klien agar perawat dapat memberikan pelayanan keperawatan dengan maksimal.
3. Memberitahukan bahaya dan keuntungan tindakan operasi yang akan dilakukan
4. Menjelaskan tujuan prosedur operasi
5. Memberikan pendidikan keperawatan setelah dilakukannya prosedur operasi
6. Memberitahukan hal hal yang harus dihindari dan yang boleh dilakukan setelah tindakan operasi

Pendidikan keperawatan setelah tindakan Post Operasi, antara lain :
1.    Tanda dan gejala infeksi ( kemerahan, pandangan kabur, nyeri, bengkak, berair )
2.    Tanda dan gejala peningkatan TIO ( Nyeri, mual, pandangan menurun )
3.    Proteksi untuk mata ( kacamata )
4.    Pengobatan dan tekhnik menggunakan tetes mata
Beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada pasien post operasi katarak, yaitu :
Hal yang boleh dilakukan
Hal yang tidak boleh dilakukan
  • Memakai dan meneteskan obat seperti yang dianjurkan
  • Memakai penutup mata seperti yang dinasihatkan
  • Melakukan pekerjaan yang tidak berat
  • Bila memakai tali sepatu jangan membungkuk akan tetapi kaki diangkat ke atas
  • Menggosok mata
  • Membungkuk terlalu dalam
  • Menggendong yang berat
  • Membaca berlebihan
  • Mengedan terlalu keras saat BAB
  • Berbaring ke sisi mata yang baru dibedah

E. DIAGNOSA YANG MUNCUL POST OPERASI
          Diagnosa yang mungkin muncul post operasi yaitu :
1.    Kecemasan berhubungan dengan tindakan operasi
2.    Nyeri akut berhubungan dengan interupsi pembedahan jaringan tubuh
3.    Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan peningkatan perentanan sekunder terhadap interupsi permukaan tubuh.
4.    Resiko tinggi terhadap cidera berhubungan dengan keterbatasan penglihatan, berada di lingkungan yang asing dan keterbatasan mobilitas dan perubahan kedalaman persepsi karena pelindung mata.
5.    Resiko tinggi terhadap infektif penatalaksanaan regimen terapeutik berhubungan dengan kurang aktivitas yang diijinkan, obat – obatan, komplikasi dan perawatan lanjutan
















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar